Nama: Vilza Rahayu Sukma
Nim : 23016119
FUNGSI SASTRA
A. PENDAHULUAN
Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulis atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga perasaan. Semuanya itu diwujudkan dalam bentuk imajinatif, cerminan kenyataan, atau data asli yang dibalut dalam kemasan estetis melalui media bahasa.
Dalam sastra Indonesia sendiri, banyak sekali bagian-bagiannya. Secara garis besar sastra Indonesia terbagi menjadi dua yaitu sastra lama dan sastra baru/modern. Dari sekian banyak sastra contohnya seperti puisi, cerpen, novel, pantun, gurindam prosa dan sebagainya.
Untuk memahami berbagai hal mendalam mengenai apa itu sastra, maka Anda bisa menyimak penjelasan di bawah ini yang akan mengupas tuntas mengenai apa itu sastra, mulai dari pengertian sastra menurut para ahli, sejarah sastra, jenis-jenis sastra, fungsi sastra, struktur sastra, berbagai teori tentang sastra, dan berbagai aliran di dalam sastra.
B. PEMBAHASAN
1. Hakikat Fungsi Sastra
Fungsi dan peran sastra terkait erat dengan kondisi masyarakat dan pemerintahan. Dalam masyarakat Indonesia kontemporer saat ini, fungsi dan peran sastra semakin penting karena sastra bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Melalui sastra setiap masyarakat dengan latar belakang etnis dan budaya berbeda bisa belajar memahami kelompok masyarakat lain untuk menumbuhkan empati, simpati, dan rasa menghargai. Hakikat fungsi sastra dapat diuraikan sebagai berikut:
- Fungsi Estetika Sastra mengutamakan keindahan dalam penggunaan bahasa, menggabungkan kata-kata dengan cara yang unik dan kreatif untuk menciptakan karya yang menarik secara estetis.
- Fungsi Ekspresi Sastra memungkinkan penulis untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan pengalaman mereka dengan cara yang mendalam dan emosional, seringkali melalui karakter dan cerita fiksi.
- Fungsi Refleksi Sosial Sastra sering kali mencerminkan masyarakat, budaya, dan nilai-nilai saat itu. Ini dapat digunakan untuk menggambarkan masalah sosial, politik, dan budaya yang relevan.
- Fungsi Pengalaman Katharsis Sastra dapat memberikan pembaca pengalaman emosional dan katharsis dengan menggambarkan perjuangan, konflik, dan perubahan dalam cerita.
- Fungsi Pendidikan dan Pemikiran Sastra memiliki potensi untuk menginspirasi pemikiran kritis, merangsang imajinasi, dan memberikan wawasan tentang berbagai aspek kehidupan manusia.
- Fungsi Hiburan Banyak karya sastra, seperti novel dan cerita pendek, bertujuan untuk menghibur pembaca dan memberikan mereka pelarian dari kenyataan sehari-hari.
- Fungsi Warisan Budaya Sastra juga berperan dalam memelihara warisan budaya dan bahasa suatu bangsa. Karya sastra klasik sering dianggap sebagai bagian penting dari identitas suatu masyarakat.
Hakikat fungsi sastra mencakup berbagai aspek termasuk estetika, ekspresi, refleksi, sosial, pengalaman katharis, pendidikan, hiburan, pelestarian warisan budaya.
2. Kaidah Dulce Et Utile Suatu Karya Sastra
Kaidah "dulce et utile" adalah prinsip yang sering digunakan dalam sastra untuk menggambarkan bahwa suatu karya sastra harus memiliki unsur "manis" (dulce) dan "bermanfaat" (utile) bagi pembaca atau penontonnya. Prinsip ini mengacu pada ide bahwa karya sastra seharusnya tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pesan atau pelajaran yang bermanfaat.
- Dulce (Manis) Manis dalam konteks sastra merujuk pada daya tarik estetis atau keindahan karya tersebut. Karya sastra yang manis akan memikat pembaca dengan penggunaan bahasa yang kreatif, gaya penulisan yang indah, dan penyajian yang menarik. Daya tarik estetis ini membuat karya sastra lebih menarik dan dapat merangsang imajinasi pembaca.
- Utile (Bermanfaat) Bermanfaat dalam konteks sastra berarti karya tersebut membawa pesan, pelajaran, atau wawasan yang bermanfaat bagi pembaca. Karya sastra yang bermanfaat dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang aspek-aspek kehidupan manusia, seperti moralitas, nilai-nilai, konflik sosial, atau kondisi manusia. Ini dapat memberikan pandangan baru atau memicu refleksi dalam pikiran pembaca.
Prinsip "dulce et utile" menekankan pentingnya seimbang antara aspek estetika dan nilai-nilai bermanfaat dalam sebuah karya sastra. Karya sastra yang hanya mengejar keindahan tanpa memberikan makna atau pesan yang bermanfaat dapat dianggap kosong. Sebaliknya, karya sastra yang hanya fokus pada pesan moral atau pelajaran tanpa perhatian pada estetika bahasanya mungkin kurang menarik.
3. Sastra Dan Karakter Bangsa
- Karya Sastra
Karya sastra adalah hasil kegiatan kreatif pengarang dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa (Rusyana, 1982). Fananie (2000), memaknai karya sastra berdasarkan estetika bahasa dan estetika makna.
Menurut Fananie, sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang mampu mengungkapkan aspek estetis, baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna. Hal itu berarti karya sastra diciptakan pengarang tidak tanpa alasan. Pengarang menciptakan karya sastra karena pengarang ingin mengemukakan pengalaman hidup pengarang atau orang lain melalui perenungan, penghayatan, dan penjiwaan. Apa yang dikemukakan pengarang merupakan gambaran kehidupan, seperti kesedihan, kebencian, keberhasilan, kebebasan, persahabatan, percintaan, bekerja sama, dan menghargai orang lain, dengan memberikan estetika.
Dengan demikian, sastra memberikan keindahan dan kegunaan kepada pembaca. Hal itu sesuai dengan fungsi karya sastra, yaitu menyenangkan dan bermanfaat bagi pembacanya.
Menurut Horace (dalam Darma, 2004), penyair Romawi Kuno, fungsi tersebut disebut dengan dulce et utile (menyenangkan/memberi kenikmatan dan bermanfaat).
- Karakter Bangsa
Dalam penelitian ini, karakter berasal dari bahasa Yunani "charassein" yang artinya mengukir hingga terbentuk suatu pola. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari orang lain. Karakter juga berkaitan dengan nilai, seperti yang dikemukakan oleh Koesoema (2007), bahwa karakter adalah nilai khas, baik watak, akhlak, atau kepribadian seseorang, yang terbentuk dari hasil internalisasi (penghayatan) berbagai kebijakan yang diyakini dan digunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap, dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari karakter seseorang dibentuk dari lingkungan yang memengaruhinya. Oleh karena itu, seseorang dapat memiliki karakter baik atau karakter buruk bergantung pada sumber yang mengajari atau yang memberi contoh. Untuk membentuk karakter yang baik juga diperlukan iklim yang baik berupa karakter bangsa yang baik. Dengan demikian, karakter individual yang baik akan membentuk karakter bangsa yang baik. Begitu pula, karakter bangsa yang baik akan menjadi persemaian bagi terbangunnya karakter individual yang baik pula (Effendy, 2014).
4. Penjabaran Karya Sastra Bersifa Menghibur Dan Bermanfaat
Bermanfaat dalam arti luas sama dengan tidak membuang-buang waktu, bukan sekedar kegiatan iseng. Jadi, sesuatu perlu mendapat perhatian serius. Menghibur sama dengan tidak membosankan, bukan kewajiban, dan memberikan kesenangan. Kita bisa mengatakan semua karya seni "manis" dan sekaligus "bermanfaat" bagi setiap penikmatnya bahwa perenungan yang diberikan oleh seni lebih dahsyat dari perenungan yang dapat dilakukan sendiri oleh masingmasing penikmat seni.
Pengertian seni mengartikulasikan perenungan itu memberikan rasa senang dan pengalaman mengikuti artikulasi itu memberikan rasa lepas. Kalau suatu karya sastra berfungsi sesuai dengan sifatnya, kedua segi tadi (kesenangan dan bermanfaat) bukan hanya harus ada melainkan harus saling mengisi.
C. PENUTUP
1. KESIMPULAN
Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulis atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga perasaan. Semuanya itu diwujudkan dalam bentuk imajinatif, cermin kenyataan, atau data asli yang dibalutkan dalam kemasan estetis melalui media bahasa.
Hakikat fungsi sastra meliputi fungsi estetiks, fungsi ekspresi, fungsi refleksi social, fungsi pengalaman katharsis, fungsi pendidikan dan pemikiran, fungsi hiburan, da fungsi warisan budaya.
Kaidah "dulce et utile" adalah prinsip yang sering digunakan dalam sastra untuk menggambarkan bahwa suatu karya sastra harus memiliki unsur "manis" (dulce) dan "bermanfaat" (utile) bagi pembaca atau penontonnya. Prinsip ini mengacu pada ide bahwa karya sastra seharusnya tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pesan atau pelajaran yang bermanfaat.
Dalam kehidupan sehari-hari karakter seseorang dibentuk dari lingkungan yang memengaruhinya. Oleh karena itu, seseorang dapat memiliki karakter baik atau karakter buruk bergantung pada sumber yang mengajari atau yang memberi contoh. Untuk membentuk karakter yang baik juga diperlukan iklim yang baik berupa karakter bangsa yang baik. Dengan demikian, karakter individual yang baik akan membentuk karakter bangsa yang baik. Begitu pula, karakter bangsa yang baik akan menjadi persemaian bagi terbangunnya karakter individual yang baik pula (Effendy, 2014). Bermanfaat dalam arti luas sama dengan tidak membuang-buang waktu, bukan sekedar kegiatan iseng. Menghibur sama dengan tidak membosankan, bukan kewajiban, dan memberikan kesenangan.
D. DAFTAR PUSTAKA
Sastra, A. P. BAB I SASTRA: HAKIKAT, FUNGSI, GENRE DAN PENDEKATANNYA.
Agung, I., Nadiroh, S., & Rumtini. 2011. Pendidikan Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Bestari Buana Murni.
Fananie, Z. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Comments
Post a Comment