Nama: Vilza Rahayu Sukma
NIM: 23016119
Dosen Pengampu: Dr. Abdurahman, M. Pd.
ANALISIS CERPEN "DUNIA KECIL DI KEPALAKU" KARYA D. HARDI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Cerpen
adalah jenis karya sastra dalam bentuk tulisan yang mengisahkan tentang sebuah
cerita fiksi dalam bentuk cerita pendek, lugas, dan ringkas. Cerpen biasanya
hanya berisi cerita pendek tentang masalah yang dihadapi oleh satu atau lebih
karakter. Cerpen merupakan Salah satu jenis sastra yang paling sederhana. cerita
pendek dapat dianggap sebagai prosa pendek,
menurut
Priyatni (2010:136), cerita pendek memiliki ciri-ciri yang serba pendek,
termasuk peristiwa yang diungkapkan, isi, jumlah pelaku, dan jumlah kata yang
digunakan. Sedangkan menurut Ellery Sedgwick dalam Notosusanto (1959), cerpen yaitu
menyajikan situasi unik atau kelompok situasi yang memberikan kesan unik pada
pembaca. Cerita pendek tidak boleh dipenuhi dengan konten yang tidak penting
atau tidak relevan. Oleh karena itu, konten cerpen harus padat, lengkap, konsisten,
dan meninggalkan kesan yang mendalam pada pembaca.
Ada
dua unsur dalam cerpen yaitu unsur intrinsik (dalam cerita) dan unsur ekstrinsik
(di luar cerita). Tema, sudut pandang, latar atau setting, karakter dan
penokohan, gaya bahasa, amanat, alur, dan pencitraan adalah semua unsur
intrinsik. Selain unsur intrinsik, ada juga unsur ekstrinsik, seperti moralitas
yang terkandung dalam cerpen dan biografi penulis.
Sebuah
cerpen yanag berjudul "Dunia Kecil di Kepalaku" karya D. Hardi
menarik perhatian penulis untuk mengkaji unsur instrinsik dan ekstrinsik yang
ada di dalamnya. Cerpen tersebut mempunyai narasi yang menarik untuk dipelajari
dan dikaji. Cerpen ini menceritakan pengalaman karakter utama dalam situasi
atau keadaan tertentu, menunjukkan perjalanan batin karakter tersebut yaitu
seirang ibu dalam membesarkan seorang anak yang mempunyai kelainan autisme.
Karya ini memberikan gambaran tentang kompleksitas manusia, perasaan, dan
persepsi setiap orang terhadap ibu yang membesarkan seorang anak yang mempunyai
kelainan.
Untuk
itu, penyaji akan mengkaji mengenai unsur instrinsik dan ekstrinsik dari cerpen
“Dunia Kecil di Kepalaku” agar dapat meningkatkan pemahaman tentang makna
cerita tersebut.
1.2
RUMUSAN MASALAH
- Apa saja unsur instrinsik yang
terdapat dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku”?
- Apa saja unsur ekstrinsik yang terdapat dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku”?
1.3
TUJUAN
- Menganalisis unsur instrinsik
yang terdapat dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku”.
- Menganalisis unsur ekstrinsik yang terdapat dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku”.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 UNSUR INSTRINSIK
Unsur intrinsik adalah unsur pembangun dari dalam cerpen. Unsur intrinsik berpengaruh langsung ke cerita, unsur dari dalam cerpen merupakan unsur terpenting dari terbentuknya sebuah cerita. Unsur instrinsik adalah sebagai berikut:
1. Tema
Menurut
Nurgiyantoro dalam modul 3 Ceritaku Ceritamu, tema adalah makna yang
terkandung dalam sebuah cerita. Tema juga dapat dianggap sebagai gagasan pokok
dalam sebuah cerita. Tema dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah tentang
kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Hal ini dapat dibuktikan dengan:
“Jika
dengan perpisahan yang tak seharusnya terjadi itu kita menemukan arti yang benar-benar
murni hingga pada tujuan terang mengapa tiap kehidupan harus dilahirkan, maka
aku memilih hidup dengan ketidaksempurnaan dunia demi kasih yang menakdirkan
aku menjadi seorang ibu.”
2.
Tokoh dan Penokohan
Dalam
Memahami Cerita Rekaan, Sudjiman (1988:16) mengatakan bahwa karakter biasanya
manusia, tetapi mereka juga dapat menjadi binatang atau benda yang diinsankan. Jadi,
tokoh adalah orang yang melakukan apa yang terjadi dalam novel atau karya
sastra lainnya. Tokoh tidak hanya berperan sebagai pemain atau pembawa cerita,
mereka juga bertanggung jawab untuk menyampaikan konsep, pesan, tujuan, dan
tema. Tokoh harus dapat membawa pembaca untuk tidak hanya membaca tetapi juga
terlibat dalam peran yang mereka mainkan. Terdapat tiga tokoh dalam cerpen “Dunia
Kecil di Kepalaku” yaitu:
Ibu
mempunyai karakter sabar, hal ini dibuktikan dengan kutipan:
Dengan
tekun penuh kesabaran, Ibu membawa Kakak secara rutin ke pusat terapi. Melatih
fisik Kakak di rumah. Pergi ke orang pintar. Apa saja supaya Kakak bisa berlaku
selaiknya anak kebanyakan. Malangnya, sejak saat itu perilaku Dera mulai
berubah. Sering menyalahkan keadaan. Bila sudah begitu ia akan meracau, bicara
tentang kutukan, menyalahkan Ibu.
Kakak
memiliki karakter yang mudah kesal dan mudah marah, hal ini dikarenakan kakak
memiliki kelainan mental. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan:
…bila
sewaktu-waktu Kakak sedang tak enak hati. Bisa dipastikan, jika musababnya
bukan karena lapar atau kehilangan sebuah mainan yang tak tentu letak rimbanya,
acara televisilah yang kerap membuat jengkel. Kakak tak menyukai acara kartun
(bahkan mereka yang dewasa pun masih menggemarinya). Bukan film, apalagi
berita-kakak tak suka melihat orang berlama-lama ngomong atau berdebat. Di
matanya, bibir orang-orang itu lebih menyerupai bibir mas koki. Sedang mas koki
yang pernah memeliharanya beberapa waktu silam berputar mati mengambang.
Membuatnya jadi trauma dan sedih berkepanjangan. Kenangan itu tiba- tiba muncul
tak kenal waktu. Ia akan melompatlompat kecil sambil berteriak.
Dera,
tokoh ini hanyalah tokoh figuran atau pembantu. Dia adalah ayah dari kakak. Dera
memiliki karakter yang realistis. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan:
"Kita
bisa menitipkannya ke panti atau siapapun yang sudi mengurus. Kita kirim biaya
bulanan. Percuma, di kepalanya kita ini bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa.".
3.
Alur
Menurut
Sudjiman (1988:29), "Alur atau pengaluran adalah pengaturan urutan
penampilan peristiwa untuk memenuhi beberapa tuntutan," alur, juga disebut
sebagai plot, adalah rangkaian urutan peristiwa yang membangun sebuah cerita.
Alur dapat didefinisikan sebagai kombinasi elemen yang membentuk cerita
sehingga dapat membentuk kerangka utama cerita. Selain itu, alur adalah yang
akan membawa cerita untuk menyelesaikan konfliknya.
Alur
dari cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah alur campuran (maju-mundur). Hal ini
dapat dibuktikan dengan kutipan:
Sekelebat
wajah melintas, melemparnya ke masa lalu. Saat usia dua puluh. Surga yang
pernah terbayang di depan mata, telah dirancang sedemikian rupa kala Dera,
lelaki pilihan Ibu, datang untuk melamar. Keinginan kuat yang tak bisa diredam,
meski Ayah sempat berujar setengah lelucon, "Semua lelaki terlihat baik
sampai dia membuatmu menangis, sendirian di malam yang sunyi. Jika hal itu
terjadi, aku sendirilah yang akan menghajarnya." Bagaimanapun, Ibu merasa
menjadi perempuan yang paling berbahagia saat itu.
4.
Sudut Pandang
Sudut
pandang adalah perspektif yang digunakan pengarang untuk menceritakan kisah
dalam cerpen. Sudut pandang orang pertama terdiri dari pelaku utama
("aku" merupakan tokoh utama) dan pelaku sampingan ("aku
menceritakan orang lain). Sudut pandang orang ketiga terdiri dari serba tahu
("dia" menjadi tokoh utama) dan pengamat.
Sudut
pandang dari cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah sudut pandang orang
ketiga. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan:
Sebelumnya
ia memilah-milah antara figur manusia super warna-warni, mobil yang mampu
mengubah dirinya menjadi robot, pistol-pistolan (yang langsung disingkirkan Ibu),
dan sekawanan binatang pembohong berkaki empat, sampai kemudian menjatuhkan
hati pada sosok boneka lumba-lumba, di rak paling bawah di sebuah toko mainan
tua bernama Arkadia.
5.
Latar
Latar
adalah keadaan atau situasi dalam sebuah cerita diantaranya latar tempat, waktu
dan suasana.
Latar
tempat yang digunakan dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah di rumah, kamar,
toko mainan, dan jalan. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut ini:
Di
bagian barat rumah itu ia sering berdiri tak jauh dari pintu, memandangi
sekeliling halaman-yang tak terlalu besar-dengan bebas meski cukup gentar untuk
melangkahkan kaki melewati batas tetangga.
Lantai
kamar jadi basah ketumpahan air sabun yang ia bawa. Ibu geleng-geleng kepala.
Sebelumnya
ia memilah-milah antara figur manusia super warna-warni, mobil yang mampu
mengubah dirinya menjadi robot, pistol-pistolan (yang langsung disingkirkan Ibu),
dan sekawanan binatang pembohong berkaki empat, sampai kemudian menjatuhkan
hati pada sosok boneka lumba-lumba, di rak paling bawah di sebuah toko mainan
tua bernama Arkadia.
Sepanjang
perjalanan pulang, jemarinya kukuh menggandeng tangan Ibu, yang serasa tinggal
belulang berbungkus kulit namun masih mampu membuat segalanya menjadi mungkin.
Latar
waktu yang digunakan dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah malam hari
dan siang hari. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut ini:
Malam
itu ia duduk di bawah pijar lampu gantung. Tertopang siku, menghadap Ibu di
meja makan, wajahnya tertunduk resah.
Sengatan
matahari membuat badan makin lelah. Dilihatnya Kakak sudah tak sabar melongok
bawaan yang ditenteng sejak turun dari angkutan umum.
Latar
suasana yang digunakan dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah menegangkan,
kekacauan, dan menyedihkan. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut
ini:
Tapi
kali ini dia memberontak. Setapak demi rangkaian anak tangga ia susuri dengan susah
payah hingga berhasil tiba di depan pintu sebuah kamar yang terbuka.
Ibu
kesal. Kakak teriak-teriak tak jelas. Kali ini teriakannya kencang sekali.
Seperti singa yang mengaum. Badannya yang tinggi besar mondar-mandir seolah
memperagakan sesuatu. Saat Ibu mengepel lantai, tubuhnya tiba-tiba terpental.
Sesuatu mendorong Ibu dari belakang.
Kalimat
itu menghujam, beranak-pinak menyayat luka. Ibu membayangkan pilihan pahit:
menyelamatkan pernikahan atau membesarkan hidup Kakak seorang diri. Anak itu
tidak bersalah.
6.
Gaya Bahasa
Gaya
bahasa juga digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan tujuan
mempengaruhi pembacanya. Juga digunakan untuk menciptakan nada dan suasana
persuasif, dan dalam dialog untuk menunjukkan interaksi sekaligus hubungan antar
tokoh. Majas adalah gaya bahasa.
Gaya
bahasa yang digunakan dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah majas
metafora, personifikasi, dan paralelisme,
…embusan angin mengendus hortensia.
…tubuh tua Ibu terbaring lemah.
…sofa lapuk, …pintu yang masih terbuka, dan …cahaya
lamat-lamat memudar.
7. Amanat
Amanat adalah pesan yang pengarang ingin sampaikan kepada pembacanya. Amanat cerpen biasanya tersirat. Amanat yang terdapat dalam cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah hendaknya kita selalu bersyukur terhadap apa yang telah tuhan berikan kepada kita, menerima anak titipan dari tuhan dengan hati yang Ikhlas meskipun dia terlahir dengan kekurangan dan juga hendaklah mempunyai kesabaran dan simpati yang baik dalam mendidk anak.
2. 2 UNSUR EKSTRINSIK
Unsur ekstrensik sangat penting bagi pengarang dalam membangun ceritanya, ini termasuk unsur-unsur yang ada di luar cerpen, seperti kebiasaan masyarakat. Unsur ekstrinsik dari cerpen adalah sebagai berikut:
1. Nilai-nilai
- Nilai moral
Dalam kamus psikologi (Chaplin, 2006), disebutkan bahwa moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. Semen- tara dalam psikologi perkembangan, Hurlock (edisi ke-6, 1990), disebutkan bahwa perilaku moral adalah: perilaku yang se- suai dengan kode moral kelompok sosial. Moral sendiri ber- arti: tata cara, kebiasaan dan adat.
Dalam kisahnya, Ibu merawat Kakak dengan kesabaran dan cinta, menunjukkan nilai-nilai ini. Meskipun situasinya sulit, ibu menjalani kehidupannya dengan penuh pengorbanan untuk anaknya. Ini menunjukkan betapa pentingnya cinta kasih dalam keluarga dan bagaimana kasih sayang seorang ibu dapat mempengaruhi hidup anaknya.
Cerita ini menekankan bahwa setiap orang berbeda dengan perbedaan dan kekurangan. Ibu menerima kakak dengan semua kekurangannya dan berusaha sebaik mungkin untuk memberinya kehidupan yang baik.
- Nilai sosial
Dalam suatu masyarakat, nilai sosial terdiri dari berbagai prinsip, anggapan, dan keyakinan yang berlaku. Nilai-nilai ini dikomunikasikan secara lisan dan diakui dan disepakati oleh semua anggota masyarakat sebagai pedoman hidup.
Cerpen ini menunjukkan betapa pentingnya menerima dan merawat orang dengan kebutuhan khusus. Meskipun kakak menghadapi kesulitan dalam hidupnya, ibu tetap menerimanya dan merawatnya dengan cinta. Ini adalah pengingat bahwa setiap orang berhak atas perawatan, perhatian, dan penerimaan terlepas dari keyakinan dan keyakinan mereka.
Cerpen ini menunjukkan betapa lemahnya manusia saat menghadapi kesulitan hidup. Sambil menghadapi ketidakpastian masa depan, ibu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan merawat Kakak. Ini mencerminkan kenyataan bahwa banyak keluarga menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam hidup mereka.
- Nilai agama
Nilai agama terdiri dari beberapa sistem yang mengatur kepercayaan, perilaku, dan kaidah dalam menjalani berbagai jenis hubungan sosial dengan orang-orang yang Dia ciptakan serta cara beribadah kepada Tuhan YME.
Kakak berharap Bapak berada di surga, dan ia juga ingin pergi ke sana. Ini membahas keyakinan tentang kehidupan setelah kematian, yang umum dalam banyak agama.
- Nilai Pendidikan
Makna nilai pendidikan yang diacu dalam sastra (cerpen) adalah kebaikan atau manfaat yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan manusia.
Ibu terus berusaha keras untuk memberi anaknya
peluang pendidikan dan kesempatan yang sama seperti anak-anak lain, meskipun
Kakak memiliki kesulitan dalam belajar dan berkomunikasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Unsur instrinsik dari cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah memiliki tema kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, tokoh dan penokohannya yaitu ibu berkarakter sabar, kakak berkarakter mudah marah, dan Dera memiliki karakter yang realistis, alurnya yaitu campuran atau maju-mundur, memiliki sudut pandang orang ketiga, memiliki latar tempat di rumah, kamar, dan jalan, memiliki latar waktu malam hari dan siang hari, memiliki latar suasana menyedihkan, menegangkan, dan kekacauan, gaya bahasanya yaitu majas metafora, personifikasi, dan parelelisme, dan amanat yang terdapat dalam cerpen dunia kecil di dalam kepalaku adalah hendaknya kita selalu bersyukur terhadap apa yang telah tuhan berikan kepada kita, menerima anak titipan dari tuhan dengan hati yang Ikhlas meskipun dia terlahir dengan kekurangan dan juga hendaklah mempunyai kesabaran dan simpati yang baik dalam mendidk anak.
Unsur ekstrinsik dari cerpen “Dunia Kecil di Kepalaku” adalah memiliki nilai moral berupa Ibu merawat Kakak dengan kesabaran dan cinta, memiliki nilai sosial berupa betapa pentingnya menerima dan merawat orang dengan kebutuhan khusus, memiliki nilai agama berupa kakak berharap Bapak berada di surga, dan ia juga ingin pergi ke sana. Ini membahas keyakinan tentang kehidupan setelah kematian, yang umum dalam banyak agama, dan memiliki nilai Pendidikan berupa Ibu terus berusaha keras untuk memberi anaknya peluang Pendidikan.
3.2 SARAN
Demikianlah makalah yang penulis buat ini,
semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca tentang analisis unsur
instrinsik dan ekstrinsik dari cerpen “Dunia
Kecil di Kepalaku”, Penulis mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam
penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas. Penulis hanyalah manusia biasa
yang tak luput dari kesalahan dan kami juga sangat mengharapkan saran dan
kritik dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Sekian penutup dari penulis
semoga dapat diterima di hati dan penulis ucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dian Ibung, P. S. I. 2013. Mengembangkan nilai moral pada anak. Elex Media Komputindo.
Sirojudin, Muhammad. 2013. https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/1351 Diakses pada 24 Oktober 2023.
Rohman, S. 2020. Pembelajaran cerpen. Bumi Aksara.
Qothrunnada,Kholida. 2021. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d 5811906/memahami-unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik-dalam-cerita-pendek Diakses pada 23 Oktober 2023.
Comments
Post a Comment