GENRE DRAMA
A.
PENDAHULUAN
Drama
adalah salah satu jenis seni pertunjukan yang telah bertahan selama
berabad-abad dan merupakan ekspresi luar biasa dari bakat manusia. Drama adalah
seni pertunjukan yang menggabungkan elemen-elemen seperti naskah, akting,
pengaturan panggung, dan tata rias untuk membuat pertunjukan yang memukau.
Drama bukan hanya sekadar hiburan, drama juga sebagai alat untuk berbagi pesan,
menghormati manusia, dan mendorong pemikiran kritis.
Ketika
mendengar kata "drama", sering terbayang berkaitan dengan aktor-aktor
yang berperan sebagai karakter yang sangat emosi, berbicara dengan naskah yang
sangat baik. Drama juga lebih dari sekadar pertunjukan di panggung. Drama
memiliki sejarah yang panjang dan memainkan peran penting dalam evolusi budaya
manusia. Drama tidak hanya menunjukkan budaya masa lalu, tetapi juga menawarkan
platform untuk berbagi ide dan pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai,
konflik, kehidupan, dan kondisi manusia.
Drama bukan hanya cerita tapi juga ekspresi emosi, refleksi kehidupan, dan daya tarik pertunjukan panggung yang abadi. Drama adalah perayaan keberagaman manusia, representasi dari berbagai transformasi sosial, dan penanda perjalanan budaya manusia.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Drama
Secara etimologis, drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang artinya berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Menurut Suryaman (2010: 10), drama adalah karya sastra yang berupa dialog-dialog dan memungkinkan untuk dipertunjukkan untuk ditonton. Drama adalah jenis sastra di mana dialog atau percakapan verbal terjadi di antara tokoh-tokoh dalam cerita (Budianta dkk., 2002: 95). Dialog atau percakapan yang terjadi di atas panggung adalah yang paling penting dalam pertunjukan drama karena dialog menentukan ceritanya. Menurut Kabisch (1985: 43), drama dibagi menjadi babak. Drama juga memiliki alur atau jalan cerita yang diuraikan sehingga penonton dapat memahami cerita yang terlihat. Menurut buku Dramaturgi, dasar drama adalah konflik kemanusiaan, selalu menguasai minat dan perhatian umum. Fokus pada konflik adalah berfungsi sebagai dasar drama (Harymawan 1993: 9).
Jadi, Drama adalah sebuah pertunjukan yang membawakan sebuah cerita; gerak dan dialog adalah media yang digunakan untuk menyampaikan cerita. dilakukan oleh karakternya sendiri. Drama adalah genre sastra imajinatif, yang menceritakan cerita melalui percakapan para karakternya. Tujuan utama Drama biasanya ditampilkan di panggung, tetapi juga bisa dibaca seperti novel, puisi, atau prosa.
2. Ciri-ciri Teks Drama
a) Di dalam teks drama, seluruh cerita
diceritakan dalam bentuk dialog, baik yang dituturkan oleh narator maupun
tokoh.
b) Sepanjang teks drama, tanda petik tidak
digunakan.
c) Teks drama memiliki instruksi khusus yang
harus diikuti oleh aktor atau aktris yang memerankan karakternya.
d)
Teks drama memiliki konflik dan aksi.
e) Drama harus dipentaskan atau dilakonkan.
3. Unsur-unsur Drama
a. Penokohan dan Perwatakan
a) Klasifikasi tokoh
Perwatakan dan penokohan terkait erat. Selain dialog dan petunjuk lakuan atau petunjuk samping, karakter akan terlihat. Jenis dialog dan warna menunjukkan watak karakter tersebut. Berdasarkan peran terhadap jalan cerita terdapat tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonist. Tokoh yang mendukung jalan cerita disebut tokoh protagonis. Karakter utama ini biasanya dibantu oleh karakter lain yang terlibat dalam hikayat. karakter antagonistik, yang bertentangan dengan alur cerita. Biasanya satu karakter agresif dan sejumlah pembantunya yang menentang Tokoh Tritagonis adalah karakter pembantu, baik untuk baik karakter protagonis maupun karakter antagonis.
berdasarkan peran dan fungsinya ada tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utama adalah tokoh yang paling menentukan gerak lakon, karakter utama, karakter yang menentang, dan karakter yang mendukung pusat. Tokoh pembantu, atau orang yang bertanggung jawab peran tambahan atau komplementer dalam rangkaian cerita.
b) Karakter tokoh
(1) Ciri fisik
Ciri-ciri fisik dapat dilihat dari bentuk tubuh, wajah, dan warna suara.Tubuh yang tinggi lebih wibawa dibandingkan dengan yang pendek.
(2) Ciri psikis
Ciri-ciri psikis berkaitan dengan watak, kegemaran, standar moral, temperamen, ambisi, cita-cita dan kompleks psikologis yang dialami tokoh.
(3) Ciri sosiologis
Berkaitan dengan keadaan sosiologis tokoh seperti status sosial dan jabatan, kelas sosial, ras, agama, dan ideologi.
b. Plot atau Kerangka Cerita
Drama memiliki tiga jenis alur cerita: linier, di mana peristiwa atau kejadian diatur secara berurutan dari awal (eksposisi, komplikasi), tengah (konflik, klimaks), dan akhir (resolusi). Jika naskah dimulai, arah mundur atau flash back/sirculair hanya dirunut setelah cerita atau plot selesai mengapa hal itu terjadi. Namun, alur episodic ketika cerita terdiri dari bagian-bagian peristiwa atau episode yang terkait satu sama lain.
c. Setting atau Latar Cerita
Setting atau tempat kejadian terkait dengan waktu dan
suasana. Penulis naskah menggambarkan setting dengan sederhana dan mendalam,
menarik imajinasi pembaca.
Dalam kasus di mana penulis naskah belum menjelaskan setting secara menyeluruh, tanggung jawab sutradara adalah menentukan tempat untuk pementasan.
d. Dialog
Di antara ciri khas naskah drama adalah dialog. Penulis menulis dialog dengan ragam lisan yang komunikatif dan bukan bentuk tulisan. Penggunaan bentuk lisan sesuai dengan jiwa dari skrip drama, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk menari. Oleh karena itu, kurangnya nuansa dalam percakapan tindakan, musik, ekspresi wajah, dll. akan membuat lengkap. Penampilan sebuah naskah akan menunjukkan jiwanya.
e. Petuntuk Lakuan/ Petuntuk Teknis
Teks yang disebut sebagai petunjuk teknis atau teks tambahan berisi informasi tentang tokoh, waktu, suasana, musik atau suara, keluar masuk aktor, keras atau lemahnya dialog, dan perasaan bagian. Teks samping ditulis dengan cara yang berbeda dari teks dialog, mungkin berupa semua huruf besar atau huruf miring.
f.
Tema dan
amanat
Tema adalah masalah utama yang akan dibahas oleh pengarang dalam karyanya. Tema adalah kesimpulan dari berbagai peristiwa yang berhubungan dengan penokohan dan latar. Drama memiliki tema sebagai dasar dari masalah-masalah tersebut. Pengaruh, pandangan, dan tujuan pengarang terhadap subjek yang dibahas disebut amanat. Drama dapat memiliki lebih dari satu amanat, asalkan semuanya terkait dengan tema. Cari amanat pada basisnya serupa atau sesuai dengan metode pencarian tema.
g. Gaya bahasa
Karena gaya bahasa yang digunakan pengarang ketika mereka menulis cerita drama, gaya bahasa tersebut tidak hanya harus menarik perhatian, tetapi juga harus membuat cerita lebih terarah. juga memengaruhi elemen drama lainnya. Jenis gaya bahasa Drama umumnya mirip dengan karya sastra lainnya, misalnya penegasan, perbandingan, dan sindiran.
4. Jenis-jenis drama
a. Tragedi
Tragedi adalah sebuah drama yang ujung kisahnya berakhir dengan kedukaan atau dukacita. Selain itu, drama ini dianggap sebagai drama serius yang melukiskan konflik di antara tokoh utamanya yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan. Konflik yang terjadi dalam drama tragedi melibatkan pertentangan etika, moral, ambisi, atau kelemahan seseorang yang menghadapi malapetaka atau kematian. Drama ini dapat menimbulkan perasaan empati dan simpati terhadap karakter utama yang menghadapi nasib buruk.
b. Komedi
Drama komedi adalah lakon ringan yang menghibur, meskipun selorohan dapat menyindir dan biasanya berakhir dengan bahagia (Sudjiman, 1990: 23). Meskipun demikian, lelucon bukanlah tujuan utama. dalam sebuah komedi. Tidak ada nilai dramatik yang dikorbankan untuk mengejar hal-hal yang lucu. Memang, drama komedi biasanya menggunakan karakter yang ceroboh, bodoh, bijak, tetapi tetap bodoh dan cerdas. gangguan yang Tidak dibuat-buat, sangat logis, dan lucu.
c. Melodrama
Istilah melodrama (Judiaryani, 2002: 150-151) pertama kali muncul di Prancis sekitar tahun 1800. Melodrama adalah sebuah pementasan yang ketika tanpa ada cakapan apapun, emosi dibangun melalui musik.
d. Tragikomedi
Drama tragikomedi awalnya populer dipentaskan oleh dramawan Plautus dengan lakon (Barnet, 2001: 39-40; dan Barranger, 1994: 180-181). Pada tahun 186 SM, kekaisaran Romawi menyebutnya Amphitryon. Tragikomedi adalah gabungan antara tragedi dan komedi.
e. Force
Drama Romawi klasik yang diadaptasi dari Atella dekat Napels, Italia, pada abad pertama sebelum Masehi dikenal sebagai farce. Drama ini selalu ada dalam pertunjukannya menggunakan karakter yang sama dan hampir identik. Farce adalah yang secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah sajian drama yang bersifat karikatural (Budianta, 2002: 113-114).
5. Tujuan drama
a. Menggugah perasaan dan emosi penonton
b. Membangkitkan refleksi tentang kehidupan
dan hubungan manusiawi
c. Menyajikan koflik dan resolusi
C.
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Salah satu seni pertunjukan yang paling berpengaruh dalam membentuk dan
mencerminkan budaya manusia adalah drama. Drama memberikan pengalaman yang
mendalam kepada penonton melalui elemen seperti naskah, akting, pengaturan
panggung, dan tata rias. Ini membuka mata penonton ke dunia karakter yang
beragam dan konflik yang kompleks.
Drama merangsang pemikiran kritis dan emosi penonton selain menghibur
mereka. Ini adalah alat yang kuat untuk memahami berbagai aspek kehidupan
manusia, menyampaikan pesan, dan merayakan kemanusiaan. Drama memberi kita
gambaran kehidupan dan memungkinkan kita untuk lebih memahami dunia kita.
Melalui konflik dan karakter-karakternya, drama memungkinkan kita merenungkan
berbagai nilai, moralitas, dan konflik sosial, serta nuansa kompleks yang
melingkupi kehidupan manusia.
Drama berfungsi untuk menyatukan orang, mendorong pemikiran kritis, dan
menginspirasi emosi. Sebagai sarana ekspresi yang tak tertandingi, drama akan
terus menjadi warisan budaya yang berharga yang akan memberi kita kesempatan
untuk memahami, merayakan, dan merenungkan kemanusiaan dalam segala aspeknya.
Dewojati, C. (2012).
Drama, sejarah, teori, dan penerapannya. Tt: Javakarsa Media.
Hartoko, D., &
Rahmanto, B. (1998). Kamus istilah sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Wardani, I.G.A.K. (1981).
Pengajaran sastra. Jakarta: P3G
Waluyo, H.J. (2001).
Drama: Teori dan pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita
Graha Widia.
Comments
Post a Comment