Nama : Vilza Rahayu Sukma
Nim : 23016119
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M. Pd.
GENRE SASTRA KLASIK
A.
PENDAHULUAN
Genre sastra adalah kategori yang membantu
kita memahami, mengklasifikasikan, dan menganalisis karya-karya sastra
berdasarkan ciri-ciri tertentu. Genre-genre ini memungkinkan kita untuk
menggolongkan karya sastra ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik
serupa, memahami pengaruh historis dan kultural yang membentuknya, serta
mengidentifikasi tema-tema dan struktur naratif yang khas. Dalam makalah ini,
kita akan memasuki dunia genre sastra klasik, yang telah memberikan kontribusi
besar terhadap landasan sastra dunia dan tetap memengaruhi karya-karya modern.
Genre sastra klasik mencakup beragam jenis
karya sastra yang telah ada selama berabad-abad. Karya-karya ini memiliki
ciri-ciri tertentu yang membuatnya dianggap sebagai klasik, dan banyak di
antaranya terus dianalisis dan dihargai hingga hari ini. Dalam pembahasan
tentang genre sastra klasik, kita akan menggali genre-genre seperti epik,
tragedi, komedi, dan pastoral yang muncul dalam sastra klasik Yunani dan
Romawi, serta genre-genre seperti epik pahlawan dan sastra epik dalam
budaya-budaya seperti India dan Tiongkok.
Meskipun karya-karya sastra klasik ini berasal dari masa lalu yang jauh, genre-genre tersebut tetap memiliki relevansi dalam sastra kontemporer. Penulis modern sering kali terinspirasi oleh konvensi dan tema-tema yang telah ada selama ribuan tahun dalam sastra klasik. Memahami akar dan evolusi genre sastra klasik membantu kita menghargai warisan sastra yang kaya dan juga memahami transformasi serta reinterpretasi genre-genre ini dalam konteks budaya yang berubah.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Sastra Klasik
Sastra (sanskerta, shastra) merupakan kata
serapan dari sanskerta sastra, yang berarti “teks” yang mengandung instruksi
atau “pedoman”, dari kata dasarnya sas yang berarti “instruksi” atau “ujaran”. Kata
“sastra” merujuk kepada semua jenis tulisan. Jadi, sastra adalah karya yang
bersifat indah dan memiliki nilai ajaran yang baik. Dalam hal itu, sastra dapat
dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan.
Genre adalah suatu ketegorisasi atau kelompok
tanpa batas-batas yang jelas memuat tentang seni, tutur hingga budaya. Genre dapat
diartikan sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat
karakteristik umum. (Lukens, 1999: 13).
Sastra klasik disebut juga sastra lama yang
merupakan sastra yang lahir dan tumbuh pada masa lampau atau pada Masyarakat lama.
Sastra lama tumbuh dan berkembang seiring dengan kondisi Masyarakat pada
zamannya, dimana sastra lama mempunyai nuansa kebudayaan yang kental dan
memiliki corak yang lekat dengan nilai dan adat istiadat yang berlaku dalam Masyarakat
tertentu.
Genre sastra klasik Nusantara adalah jenis-jenis karya sastra yang muncul dan berkembang dalam masyarakat Nusantara pada periode klasik atau sebelumnya. Karya-karya sastra ini mencerminkan nilai-nilai, budaya, dan sejarah masyarakat Nusantara pada masa tersebut.
2. Karakteristik Sastra Klasik
- Anonim, artinya tidak diketahui siapa
pengarangnya. Hal ini disebabkan karena tempo dulu tidak banyak orang yang
mengejar popularitas sehingga pengarangnya lebih fokus untuk menyajikan
mahakarya yang menitikberatkan pada fungsi cerita. Contohnya “Hikayat Raja
Indra”.
- Bertema istana sentris, jalan ceritanya
berlatar istana. Tokohnya biasanya raja atau pangeran yang sakti dan
kisahnya mengenai percintaan.
- Bernilai budaya lokal, sastra klasik
biasnya mengusung budays loksl, sehingga dari cerita karya sastra klasik
pembaca bisa mendapatkan gambaran moral Masyarakat yang hidup zaman dulu.
- Disebar secara lisan, penyebab
utamanya adalah pergerakan zaman dahulu sangatlah lambat daripada zaman
sekarang. Oleh karena itu, penyebaran budaya dan cerita secara lisan akan lebih
mempercepat tersebarnya cerita dibandingkan dengan menggunakan media
tulisan.
- Didaktis, yaitu memberikan pesan
mendidik kepada Masyarakat baik pesan moral maupun pesan keagamaan.
- Tradisional, yaitu mempertahankan
kebiasaan Masyarakat jaman dulu.
- Klasik imitatif, yaitu bersifat
kebiasaan tiru-meniru yang turun-menurun.
- Universal, yaitu dapat berlaku dimana saja, kapan saja, siapa saja.
3. Bentuk-bentuk Teks Lisan Sastra Klasik Nusantara
1) Berbentuk puisi
a. Mantra, yaitu rangkaian kata yang mengandungrima dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diuacapkanoleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Contohnya:
Gempa ali gempa gempita,
Dang sari gajah berlenggang,
Sah aku anak harimau yang garang,
Batu congkol hatiku,
Nibung kering tulangku,
Berkat doa baginda,
Ali Gentar bumi gentar langit.
b. Bidal, yaitu kalimat singkat yang mengandung pengertian atau kiasan dan membayangkan sindiran. Contohnya:
Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati
tak mau.
c. Talibun, yaitu sejenis puisi lama seperti pantun yang mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris. Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya. Contohnya:
Berangkat ke pasar buat jual duku,
Jangan lupa pakailah sepatu baru,
Biar punya banyak ilmu,
Banyak-banyaklah baca buku.
d. Seloka, bentuk puisi melayu klasik, berisi pepatah maupun perumpamaanyang mengandunng senda gurau, sindiran, bahkan ejekan. Contohnya:
Di Cianjur ketemu Mumu,
Setiba ketemu Mumu sudah tak kukuh,
Aku masih sayang padamu,
Setiba ketemu Mumu sudah tak kukuh.
e. Gurindam, yaitu suatu bentuk puisi melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama. Contohnya:
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
f. Pantun, yaitu sejenis puisi lama yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b-b-a, a-a-b-b. Contohnya:
Pergi memancing saat fajar,
Pulang siang membawa ikan.
Siapa yang rajin belajar,
Jadi orang sukses kemudian.
g. Karmina, yaitu pantun yang terdiri dari dua baris. Contohnya:
Pergi ke desa bersama paman,
Marilah kita kuatkan iman.
h. Syair, yaitu puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Contohnya:
Bermula kisah kita mulai,
Zaman dahulu zaman Bahari,
Asal mulanya sebuah negeri,
Timbulnya kerajaan Raja di Candi,
Kerajaan bernama Negara Dipa,
Raja pertama Empu Jatmika,
Putra tunggal Mangkubumi dengan Sitira,
Asal Negeri Keling di Tanah Jawa,
Mangkubumi saudagar kaya,
Kerabat raja yang bijaksana,
Berputera seorang elok rupanya,
Empu Jatmika konon namanya.
2) Berbentuk Prosa
a. Dongeng, yaitu cerita-cerita zaman purba
yang berbentuk prosa tentang cerita khayal dan penuh keajiban. Dongeng disampaikan
dari mulut-kemulut.
b. Mite, yaitu tentang kehidupan makhluk halus
atau hantu.
c. Fabel, yaitu dongeng yang menceritakan binatang
yang hidup sebagai manusia berbuat dan berbicar seperti Binatang.
d. Legenda, yaitu tentang cerita terjadinya
nama-nama tempat, gunung, Sungai, danau , dan lainnya.
e. Sage, yaitu dongeng yang mengandung unsur Sejarah.
f.
Hikayat,
yaitu cerita penuh khayal, isinya tentang kehidupan sekitar istana.
g. Sejarah atau silsilah, yaitu berisi tentang asal-usul raja dan kejadian-kejadian penting.
4. Situasi Bahasa Genre Sastra Klasik Nusantara
- Aspek geografis, sastra klasik lahir
dan berkembang di wilayah Nusantara yang memiliki keragaman alam, budaya,
dan etnis. Hal ini mempengaruhi pilihan tema, latar, tokoh, dan gaya
bahasayang digunakan oleh para pengarang sastra klasik.
- Aspek historis, sastra klasik Nusantara
juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa Sejarah yang terjadi di masa
lampau, seperti kontak dengan bangsa-bangsa asing, perang, revolusi,
kolonialisme, dan nasionallisme.
- Aspek sosial, sastra klasik Nusantara juga mencerminkan struktur sosial, nilai-nilai moral, dan norma-norma yang berlaku di Masyarakat pada zaman tersebut.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Sastra klasik merupakan sastra yang lahir
dan tumbuh pada masa lampau. Sastra lam berkembang seiring dengan kondisi masyarakat
pada zamannya yang dimana sastra lama mempunyai nuansa kebudayaan yang kental. Pertama
kali sastra klasik ini muncul sebelum abad 20 atau sekitar 1870-an. Pada era
itu para pembuat karya sastra menciptakan karya sastra yang berupa syair,
hikayat, dan novel berupa terjemahan dari barat.
Karakteristik dalam sastra klasik yaitu, anonym, bertema istana sentris, bernilai budaya lokal, disebar secara lisan, dadaktis, tradisional, klasik imitative, dan universal. Sastra klasik Nusantara juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa Sejarah yang terjadi di masa lampau. Sastra klasik Nusantara mencerminkan struktur sosial, nilai-nilai moral, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat zaman tersebut.
Agni.
2008. Sastra Indonesia Lengkap. Jakarta: Hi-fest publishing.
Purwadi.
2009. Sejarah Sastra Klasik. Yogyakarta: Panji Pustaka.
Teeuw,
A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Comments
Post a Comment