Nama : Vilza Rahayu Sukma
NIM : 23016119
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M.Pd
STRUKTUR FIKSI
STRUKTUR FIKSI
A.
PENDAHULUAN
Struktur
adalah komponen yang membentuk kesatuan yang kompleks dalam karya sastra dan
membentuk karya sastra yang utuh. Menurut Jamrohim, Hawks menyatakan
strukturalisme adalah daya pikir tentang dunia berhubungan dengan tanggapan dan
gambaran sistem atau sebuah sistem yang komponen dan komponennya keduanya
terkait satu sama lain (Jabrohim, 2012).
Keutuhan
elemen dalam karya kreatif tidak hanya merupakan gabungan atau susunan elemen
yang dapat berdiri sendiri, tetapi juga elemen yang saling berhubungan dan
saling membangun. Riswandi dan Titin Kusmini (2018) menyatakan Struktural
berarti menganalisis makna karya seni dengan melihat bagaimana komponen
struktur berhubungan satu sama lain. Abidin menyatakan (2012) menyatakan bahwa
jika karya yang akan dipelajari adalah karya fiksi, yang harus dipelajari dan
diperiksa, yaitu elemen yang membentuk karya kreatif, seperti tema, amanat,
plot, lokasi, penokohan, dan sudut pandang.
Novel,
cerita pendek, atau drama, cerita fiksi telah menjadi cara untuk menghibur,
menginspirasi, dan berbagi berbagai ide dan pengalaman manusia. Penting untuk
merinci dan menganalisis struktur yang membentuk dasar dari setiap cerita fiksi
jika kita ingin memahami dan menghargai karya fiksi dengan lebih baik. Struktur
fiksi adalah struktur yang mengatur alur cerita, karakter, konflik, tema, dan
elemen penting lainnya dari narasi. pentingnya memahami struktur fiksi dalam
analisis sastra, menyoroti cara struktur cerita mencerminkan ide-ide, konflik,
dan pesan yang mungkin tersirat dalam cerita. Dengan memahami bagaimana cerita
dibangun, kita dapat lebih memahami makna dan signifikansi yang terkandung
dalam karya sastra.
Dengan memahami struktur fiksi, kita dapat lebih mendalam mengapresiasi keindahan dan kompleksitas cerita sastra. Dalam perjalanan ini, kita akan menjelajahi berbagai karya sastra yang ditulis oleh berbagai penulis dan dari berbagai periode waktu, sehingga kita dapat melihat bagaimana struktur fiksi berubah dan berkembang sepanjang sejarah. Tanpa memahami struktur fiksi, kita hanya dapat melihat permukaan cerita-cerita yang indah ini. Oleh karena itu, mari kita mulai mempelajari dunia fiksi dan bagaimana struktur ini memberikan makna mendalam pada karya sastra yang kita sukai.
B.
PEMBAHASAN
- Pengertian Fiksi
Fiksi
adalah narasi yang ditulis oleh seseorang dan sebagian atau seluruhnya
berkaitan dengan peristiwa yang bukan fakta tetapi imajiner. imajinasinya, baik
melalui penglihatan atau pendengaran ataupun tulisan. Secara umum, fiksi
berarti sebuah penipuan. Karya fiksi biasanya ditulis dalam bentuk cerita, baik
untuk menghibur pembaca atau untuk menyampaikan pendapat atau perspektif
pengarang. Pada dasarnya, pekerjaan jenis ini tidak membutuhkan fakta, logika,
atau kisah nyata. Apa dan bagaimana hal itu terjadi, semuanya berdasarkan
penulisnya. Fiksi adalah sesuatu. yang berasal dari alam mimpi. Namun, ketika
fiksi telah didasarkan pada fakta secara keseluruhan, jadi tidak ada lagi bukan
kisah nyata, tetapi fiksi. Memang, beberapa karya sastra didasarkan pada cerita
sebenarnya, tetapi ketika imajinasi ditambahkan ke dalamnya, ketika jenisnya
berubah menjadi fiksi, jenisnya tidak lagi disebut secara historis atau sebagai
fakta. Dengan kata lain, karena nilai Setitik, susu sebelanga. meskipun nama,
lokasi, dan tanggal tetap sama apa pun.
Pengertian Fiksi Menurut Para ahli:
1. Nurgiyantoro (2007: 2-3), fiksi dapat diartikan sebagai prosa
naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung
kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.
2. Fiksi adalah karangan yang di dalamnya terdapat unsur khayal
atau imajinasi pengarang (Aceng Hasani, 2005: 21)
3. Sudjiman (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah
cerita rekaan juga memaparkan mengenai pengertian fiksi, yaitu kisahan yang
mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau
imajinasi, dalam ragam prosa. Dalam hal ini, Sudjiman menjelaskan bahwa karangan
fiksi merupakan hasil imajinasi seorang pengarang yang didalamnya mengandung
unsur-unsur seperti tokoh, alur, dan lainnya. Unsur-unsur tersebut saling
berkesinambungan agar terjadinya sebuah cerita.
2)
Unsur-unsur Fiksi
1) Unsur intrinsik Adalah unsur yang membangun karya sastra itu
sendiri. Unsur intrinsik terdiri dari tema dan amanat, fakta cerita, dan sarana
cerita. Fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam sebuah
karya fiksi. Fakta cerita terdiri atas tokoh, alur (plot), latar (setting).
Sarana cerita merupakan hal-hal yang dimanfaatkan oleh pengarang dalam memilih
dan menata detil-detil cerita. Sarana cerita terdiri atas judul, sudut pandang
(point of view), gaya dan nada. Tema merupakan makna cerita, gagasan sentral,
atau dasar cerita.
2) Unsur ekstrinsik Adalah unsur yang berada diluar karya sastra
itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme
karya sastra. Unsur ekstrinsik terdiri dari unsur biografi, psikologi, keadaan
lingkungan pengarang, pandangan hidup bangsa, dan lain-lain.
3) Cerita dan wacana Cerita merupakan isi dari ekspresi naratif,
sedang wacana merupakan bentuk dari sesuatu (cerita, isi) yang di ekspresikan
(Chatman dalam Nurgiantoro, 2003. Pihak 7 lain mengatakan bahwa wacana
merupakan sarana untuk mengungkapkan isi. Atau secara singkat dapat dikatakan,
unsur sarana adalah apa yang ingin dilukiskan dalam teks naratif itu, sedang
wacana adalah bagaimana cara melukiskannya.
3)
Unsur-unsur Porsa-Fiksi
1)
Tema
Tema adalah gagasan atau
ide yang ingin disampaikan pengarang dalam kisahnya. Setelah mengkaji semua
elemen prosa-fiksi itu, kita akan dapat menemukan tema ini. Dalam menerapkan
komponen ini pada saat memberikan penghargaan kepada karya prosa, seorang penghargaan
tentu saja tidak hanya melakukan analisis dan pembagiannya berdasarkan bagian,
tetapi setiap komponen harus dipertimbangkan secara keseluruhan. dengan
komponen tambahan. Apakah komponen saling bergantung dan membantu, dalam
penyampaian cerita, atau malah sebaliknya.
2)
Tokoh dan Penokohan
Tokoh dan Penokohan dalam
mengkaji unsur-unsur ini, beberapa istilah seperti tokoh, watak/karakter, dan penempatan.
Tokoh adalah pelaku cerita, meskipun mereka tidak selalu terjadi.berwujud
manusia, tergantung pada ceritanya itu dalam kisah. Karakter atau watak adalah
sifat dan sikap para individu tersebut. Untuk penokohan, pengarang menampilkan
karakter dan karakternya dalam cerita. Dalam penokohan, menampilkan karakter
dan watak karakter dalam kisah), ada beberapa cara yang dilakukan oleh
pengarang, termasuk melalui:
- Gambaran fisik Metode ini melibatkan pengarang
menggambarkan karakteristik fisik karakter, seperti wajahnya, bentuk
tubuhnya, pakaiannya, cara berjalannya, dan lain. Pembaca dapat memahami
dari gambar itu watak karakter tersebut.
- Percakapan: Pengarang menggambarkan tokoh melalui
dialog. karakter bersama karakter lain. Bahasa, materi percakapan, dan hal-hal
lain yang dibicarakan oleh karakter tersebut menunjukkan watak karakter
tersebut.
- gambaran mental dan emosional tokoh. Karya fiksi sering
menggambarkan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh karakter.
Penggambaran ini juga merupakan teknik yang digunakan pengarang untuk
menunjukkan karakter mereka.
- Komentar dari karakter lain. Metode ini menggunakan
pernyataan tokoh lain untuk menggambarkan wataknya.
- Narasi. Dalam teknik ini, pengarang (narator) yang langsung mengungkapkan watak tokoh itu.
3)
Pembedaan Tokoh
a.
Tokoh Utama dan Toko Tambahan
Tokoh dibagi menjadi tokoh
utama dan tokoh tambahan berdasarkan seberapa penting mereka dalam cerita. Tokoh
yang dianggap penting dan ditampilkan terus menerus sehingga membuatnya
terlihat seperti dia yang berkuasa seperti sebagian besar cerita, karakter
tambahan adalah karakter yang hanya disebutkan beberapa kali dalam alur cerita cerita
yang relatif singkat.
b.
Tokoh Protagonis dan Antagonis
Tokoh dibagi menjadi tokoh
protagonis dan antagonis berdasarkan bagaimana mereka muncul dalam cerita.
Tokoh prontagonis menarik simpati pembaca. Tokoh antagonis digambarkan sebagai
tokoh yang menyebabkan konflik muncul.
c.
Tokoh Statis dan Dinamis
Tokoh cerita dapat diklasifikasikan
sebagai statis dan dinamis berdasarkan apakah mereka berkembang atau tidak.
Karakter "Statis" adalah orang yang memiliki karakteristik dan sifat
yang konstan, tidak tumbuh dari awal cerita hingga akhir, dengan karakter Karakter
dinamis mengalami evolusi karakter, sejalan dengan ceritanya.
4)
Alur dan Pengaluran
Selama ini, sering terjadi
kesalahpahaman tentang alur karena dianggap sama dengan jalan cerita. Definisi
ini sebenarnya salah. Jalan cerita terdiri dari peristiwa demi peristiwa. peristiwa
yang terjadi secara bertahap. Selain itu, alur adalah rangkaian kejadian yang
terkait karena hubungan akibatnya.
5)
Latar
Abrams (1981:175)
mengatakan bahwa latar adalah tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial
tempat peristiwa yang diceritakan terjadi. Latar cerita dapat dikategorikan
menjadi satu dari tiga kategori:
a.
latar tempat, yaitu latar yang merupakan tempat peristiwa
terjadi, baik itu nama kota, jalan, gedung, rumah, dan lainnya;
b. tanggal, lebih tepatnya, latar belakang yang berkaitan dengan
saat peristiwa terjadi cerita, apakah berupa urutan peristiwa historis,
representasi dari keadaan setiap hari, seperti pagi, siang, sore, dan
seterusnya; dan
c. konteks sosial, yaitu keadaan yang terdiri dari adat
istiadat, budaya, standar lokal, dan sebagainya peristiwa sejarah.
6)
Gaya Bahasa
Setiap pengarang ingin
ceritanya menyentuh dan mempengaruhi pembaca. Bahasa adalah sarana karya prosa,
jadi bahasa ini akan dibuat sebaik mungkin oleh penulis dengan memanfaatkan
bahasa dengan sebaik mungkin. Sifat bahasa bahasa yang digunakan oleh seorang
pengarang dikenal sebagai gayanya. Untuk mencapai efek estetis dan daya ungkap.
Untuk mencapai hal ini, pengarang memberdayakan elemen style tersebut, yaitu
dengan diksi, pencitraan (gambaran sesuatu yang tampaknya dapat diindra pembaca),
majas, dan cara berbicara.Maksud dari elemen gaya berikut adalah contohnya.
- Diksi
Pengarang memilih kata,
atau diksi, saat menggunakan unsur diksi. Kata-kata dipilih dengan hati-hati
untuk menyampaikan pesan dan menghasilkan ekspresi. Kata-kata yang dipilih
mungkin berasal dari kosa kata formal atau sehari-hari, seperti bahasa
Indonesia atau bahasa internasional dan lain-lain, memiliki arti denotasi
(memiliki arti yang jelas, sebenarnya, atau definisi dalam kamus) atau makna
(memiliki makna) tambahan, yaitu makna yang diciptakan oleh asosiasi (gambaran,
ingatan, dari perasaan) dari istilah itu.
- Citra atau Imaji
Citra atau imaji adalah
kata atau kumpulan kata yang dapat memperjelas atau memperkonkretkan apa yang
disampaikan oleh pengarang sehingga pembaca dapat memahami apa yang
digambarkan. oleh pancaindera kita, melalui pengimajian atau pencitraan apa
yang seolah-olah dapat dilihat (citraan penglihatan) dicium (citraan
penciuman), didengar (citraan pendengaran), diraba (citraan perabaan),
dirasakan (citraan taktil), dan dicecap (pencecap), dan sebagainya.
- Gaya Bahasa
Menurut Nugiyantoro (1995:
277), teknik pemilihan ungkapan kebahasaan dianggap dapat menggambarkan apa
yang akan diungkapkan dan hasil yang diharapkan. ungkapan ini dapat digunakan
dalam dua cara, yaitu modernisasi dan gaya kontemporer.
7)
Permajasan
Majas adalah teknik pengungkapan dengan menggunakan bahasa kias
(maknanya tidak merujuk pada makna harfiah). Pemajasan terbagi menjadi tiga,
yaitu:
a.
Majas Perbandingan
a)
Simile: Perbandingan langsung dan eksplisit yang dilakukan
dengan menggunakan kata-kata tugas tertentu untuk menunjukkan keeksplisitan
(seperti, bagai, bagaikan, laksana, mirip, dan sebagainya). seperti halnya.
b) Metafora: Perbandingan yang bersifat implisit atau tidak
langsung, ubungan antara sesuatu yang pertama kali diungkapkan dengan Tidak ada
kata-kata penunjuk; keduanya hanya saran. perbandingan yang jelas.
c) Personifikasi: Memberi karakteristik benda mati dengan
karakteristik seperti dimiliki oleh manusia. Ada persamaan sifat antara sesuatu
yang mati dan atribut manusia. Tidak seperti simile dan metafora yang dapat
membandingkan apa pun dengan personifikasi. Seharusnya perbandingan itu
manusiawi.
b.
Majas pertautan
a) Metanomi: Menunjukan
pertautan/pertalian yang dekat. Misalanya seseorang suka membaca karya-karya A.
Tohari, dikatakan: “ia suka membaca Tohari”.
b) Sinekdok: Mempergunakan
keseluruhan (pars pro toto) untuk menyatakan sebagian atau sebaliknya (totum
pro foto) contohnya: ia tak kelihatan batang hidungnya.
c) Hiperbola: Menekankan maksud
dengan sengaja melebihlebihkannya.
c.
Majas Pertentangan
Paradoks Pertentangan, misalnya: ia merasa kesepian di tengah
berjubelnya manusia metropolitan.
8)
Penceritaan
Penceritaan, atau sering disebut juga sudut pandang (point of view), yakni dilihat dari sudut mana pengarang (narator) bercerita, terbagi menjadi 2, yaitu pencerita intern dan pencerita ekstern. Pencerita intern adalah penceritaan yang hadir di dalam teks sebagai tokoh. Cirinya adalah dengan memakai kata ganti aku. Pencerita ekstern bersifat sebaliknya, ia tidak hadir dalam teks (berada di luar teks) dan menyebut tokoh-tokoh dengan kata ganti orang ketiga atau menyebut nama.
C.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Dalam
hal ini, "fiksi" berarti cerita rekaan atau fantasi. Tokoh,
peristiwa, dan lokasi yang disebutkan dalam karya sastra bersifat imajiner,
sementara dalam karya nonfiksi bersifat faktual. Dalam dunia fiksi, kebenaran
adalah yang sesuai dengan keyakinan pengarang, kebenarannya "keabsahannya"
berdasarkan perspektifnya tentang masalah hidup dan kehidupan, seperti
kebenaran dalam hal hukum, moral, agama, logika, dan kadang-kadang logika, dan
lainnya.
D. DAFTAR
PUSTAKA
Harefa, Andreas. 2002. Agar
Menulis-Mengarang Bisa Gampang. Jakarta: Gramedia.
Pustaka Utama Jabrohim.
Anwar, Chairul dan Sayuti, Suminto A. 2001. Cara Menulis.
Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Tim Penyusun. KBBI (Kamus Besar Bahasa
Indonesia). 2005. Edesi 3. Cetakan 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, Burhan.
2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Comments
Post a Comment