Nama : Vilza Rahayu Sukma
NIM : 23016119
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M, Pd.
ALIRAN-ALIRAN SASTRA
A.
PENDAHULUAN
Dunia
sastra berkembang dan mengalami penyebaran yang menghasilkan
rangkaian yang kaya akan variabel dan keberagaman. Sastra sebagai seni
bahasa mengalami evolusi sepanjang masa, memantulkan perubahan sosial,
pergeseran paradigma, dan dinamika kehidupan. Sastra berkembang menjadi tidak
hanya gambaran kehidupan sehari-hari tetapi juga suatu bentuk rekayasa kreatif
yang menggunakan pemikiran, imajinasi, dan perasaan penulis.
Sebuah
aliran sastra muncul sebagai hasil dari proses yang lebih panjang dalam sastra,
mengelompokkan karya-karya tertentu berdasarkan karakteristik khusus. Aliran
sastra tidak hanya merupakan kumpulan karya, tetapi juga menggambarkan
semangat, prinsip, dan gagasan estetika yang menjadi landasan kreatif para
penulis. Dengan kata lain, aliran sastra memberikan bentuk struktural terhadap
keragaman yang ada dan membentuknya.
Tema
yang diangkat, gaya bahasa yang digunakan, dan perspektif penulis adalah
beberapa contoh ciri-ciri aliran sastra. Setiap aliran memiliki "tanda
tangan" unik yang membedakannya dari aliran lain. Sementara beberapa
aliran berfokus pada eksplorasi emosi individu, aliran lain mungkin lebih fokus
pada masalah sosial atau politik.
Aliran
sastra tidak hanya menyampaikan berbagai perspektif yang berbeda, tetapi juga
menunjukkan perbedaan pendapat manusia. Perkembangan aliran-aliran ini biasanya
disebabkan oleh peristiwa masyarakat yang signifikan, seperti revolusi, perang,
atau perubahan nilai budaya. Oleh karena itu, setiap aliran sastra dapat
dianggap sebagai tanggapan kreatif terhadap kebutuhan dan kesulitan yang timbul
pada masanya.
Oleh karena itu, memahami aliran sastra tidak hanya sebagai upaya mengenali gaya tulisan semata, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami perubahan dan dinamika dalam masyarakat. Dengan memahami berbagai aliran sastra, diharapkan kita dapat lebih mendalam dalam mengapresiasi karya sastra, menghubungkannya dengan konteks waktu, serta melihat bagaimana sastra menjadi cermin kehidupan dan pemikiran manusia.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Aliran Sastra
Pada
dasarnya, aliran sastra berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup,
politik, dll.) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra mereka,
yang berasal dari kata Stroming (bahasa Belanda) yang mulai muncul di
Indonesia pada zaman pujangga baru. Dengan kata lain, aliran sangat terkait
dengan sikap atau jiwa penulis dan subjek yang dibahas dalam karyanya.
2.
Jenis-jenis aliran sastra
a.
Aliran Idealisme
Aliran ini mengemukakan bahwa dunia ide, cita-cita, dan harapan menjadi dunia utama yang dapat dituju dalam pemikiran manusia. Aliran ini menggambarkan hal-hal yang ideal, dan pengarangnya penuh dengan perasaan dan semangat. Menurutnya, sastra dapat membantu mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik. Menurut istilah "sastra bertenden", yang mengacu pada karya-karya pengarang idealis, karya-karya tersebut diharapkan dapat mengubah perspektif pembaca tentang dunia. Mereka dapat mengubah hal-hal yang buruk menjadi baik, hal-hal yang statis menjadi dinamis, hal-hal yang malas menjadi rajin, dan seterusnya. Contoh: Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A. Kartini,
Alirannya dibagi menjadi lima jenis, yaitu: romantisme, ekspresionisme, mistisisme, surealisme, dan simbolisme.
1) Romantisme
aliran yang mengutamakan perasaan pengarang sehingga pembaca tersentuh setelah membacanya. Di dalam karangan romantisme, fantasi dan perasaaan seolah-olah lebih berkuasa. Pemandangan alam, keyakinan asli, dan kebebasan pikiran dan tindakan adalah ciri dari aliran ini. Pengikut pendekatan ini percaya bahwa imajinasi adalah yang paling penting daripada aturan formal dan fakta. Teori ini kadang-kadang bergabung dengan realisme dan idealisme, menghasilkan lahirnya realisme romantik dan idealisme idealisme.
Contoh: Siti Nurbaya (Marah Rusli), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (Hamka), Azab dan Sengsara (Merari Siregar).
2) Simbolisme
Simbolisme merupakan aliran dalam sastra yang mencoba mengungkapkan ide-ide dan emosi lebihdengan sugesti-sugesti daripada menggunakan ekspresi langsung, melalui objek-objek, kata-kata dan bunyi. Aliran ini merupakan reaksi terhadap realisme dan naturalisme yang hanya berpijak padakenyataan semata. Sastra simbolik banyak menggunakan simbol atau lambang dalam mengungkapkan pemikiran, emosi, secara samar-samar dan misterius.
Contoh: Tinjaulah Dunia Sana, Dengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin dan Kisah Negara Kambing karya Alex Leo.
3) Mistisme
Jenis karya sastra yang bersifat menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan. Kekaguman dan keharuan si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta selalu ditunjukkan dalam mistisisme mereka. Contoh: karya Amir Hamzah, Bahrum Rangkuti, dan J.E. Tatengkeng.
4) Surealisme
Jenis karya sastra yang menggambarkan berbagai subjek dan reaksi secara bersamaan. Gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang-kadang terasa kacau membuat karya sastra bercorak surealis biasanya susah dipahami. Contoh: Radio Masyarakat karya Rosihan Anwar, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dan Tumbang karya Trisno Sumardjo.
5) Ekspresionisme
Jenis karya sastra yang mengalami gejolak batin. Pengarang ekspresionisme mengungkapkan perasaan cinta, benci, kemanusiaan, dan ketuhanannya. Bagi mereka, alam hanyalah alat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang manusia yang hidup. Contoh: Sajak-sajak Chairil Anwar.
b. Materialisme
Aliran ini memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat diselidiki dengan akal manusia. Aliran materialisme dibagi menjadi empat, yaitu: realisme, impresionisme, naturalisme, dan determinisme.
1) Realisme
Dalam aliran ini, objek cerita adalah kenyataan. Segala sesuatunya dilihat dari perspektif kehidupan nyata. Karya sastranya dari Angkatan 45, khususnya yang berkaitan dengan revolusi, paling sering termasuk dalam aliran ini karena mereka benar-benar menggambarkan realitas kehidupan sehari-hari.
2) Impresionisme
Dengan mengemukakan kesan, atau pandangan sepintas lalu, impresionisme adalah jenis seni yang sangat kuat dan menonjol yang melukiskan kenyataan yang sebenarnya. Misalnya, buku cerpen "Serimpi" karya Rohana Handarum, dan buku puisi "Tragedi Winka Sihka" karya Sutardji Calzoum Bachri.
3) Naturalisme
Salah satu cabang realisme, aliran ini biasanya menggambarkan hal-hal yang buruk dan buruk. Oleh karena itu, naturalisme dapat dianggap sebagai realisme karena hanya menekankan hal-hal buruk tentang masyarakat dan sifat manusia.Emile Zole, seorang pengarang Perancis, termasuk dalam aliran ini. Roman "Belenggu" karya Armijn Pane menunjukkan sifat kenaturalisasiannya dalam sastra Indonesia. seperti novel Idrus "Ave Maria to a Different Road to Rome".
4) Determinisme
Aliran ini cabang dari aliran naturalisme, yang melukiskan nasib buruk yang ditentukanoleh keadaan zaman dan lingkungan (paksaan nasib), misalnya novel Pulang karya Leila S. Chudori dan novel Gadis Tangsi‖ karya Suparto Brata.
c. Eksitensialisme
Aliran ini merupakan aliran yang muncul akibat ketidakpuasan atas dikotomi aliran idealisme dan materialisme dalam memaknai kehidupan. Menurut Ahmad Tafsir, eksistensialisme bertujuan untuk mencari jalan keluar dari pemikiran ekstrem yang berpendapat bahwa manusia selain sebagai subjek juga sebagai objek dalam kehidupan ini. Contohnya adalah karya Iwan Simatupan.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Aliran-aliran sastra mencatat evolusi pemikiran dan ekspresi manusia dalam bentuk seni tulis, yang menghasilkan warisan budaya yang terus berkembang sepanjang sejarah. Sastra dipengaruhi oleh berbagai aliran yang berbeda, dari romantisme hingga modernisme, dan setiap aliran memiliki karakteristik unik yang membuat dunia sastra unik dan beragam. Menurut pembagiannya aliran sastra dibagi tiga, yaitu idealism, materialisme, dan eksitensialisme.
D. DAFTAR PUSTAKA
Kartikasari, A. & Edi Suprapto. 2018. Kajian Kesastraan (Sebuah Pengantar). Jawa
Timur: CV. Ae Media Grafika.
Sardjono Pradotokusumo, Partini. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta: Gramedia.
Budiman, Sumiati. 1987. Sari Sastra Indonesia.
Surakarta: PT Intan Pariwara.
Comments
Post a Comment