Skip to main content

PENDEKATAN OBJEKTIF DAN MIMETIK

Nama                       : Vilza Rahayu Sukma

NIM                         : 23016119

Dosen Pengampu    : Dr, Abdurahman, M,Pd.


PENDEKATAN OBJEKTIF DAN MIMETIK

A.    PENDAHULUAN

Sastra merupakan ekspresi seni melalui kata-kata, sebagai sarana untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang berbagai aspek kehidupan manusia. Suatu pendekatan teoritis diperlukan untuk memahami kekayaan sastra. Pendekatan ini harus dapat mengungkapkan makna dan keindahan di balik setiap kata, kalimat, dan cerita yang diciptakan. Untuk menemukan makna yang tersembunyi dalam karya sastra, pendekatan teori sastra sangat berguna.

Pendekatan teori sastra tidak hanya menawarkan suatu teknik untuk menganalisis karya, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang konteks sejarah, sosial, dan budaya yang melingkupi karya tersebut. Dengan mempelajari berbagai teori sastra, kita dapat menemukan bagaimana penulis menggunakan bahasa sebagai alat untuk merayakan, merenungkan, atau mengkritisi kehidupan dan masyarakat mereka sendiri.

Pendekatan teori sastra sebagai landasan untuk pemahaman mendalam terhadap karya sastra. Pendekatan teoritis memberikan kerangka kerja konseptual yang memungkinkan kita untuk memahami bagaimana sastra dapat merangkum, merefleksikan, dan bahkan membentuk realitas manusia. Dengan memahami teori sastra, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana karya sastra merangkum, merefleksikan, dan bahkan membentuk realitas manusia.

Pada laporan bacaan ini yang akan dibahas adalah pendekatan sastra secara objektif dan mimetik.

B.     PEMBAHASAN

1.      Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif mengarah pada analisis sastra secara strukturalisme karena pendekatan ini memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom. Akibatnya, pendekatan ini juga dikenal sebagai pendekatan objektif.

Semi (1993:67) menyebutkan bahwa pendekatan struktural dinamakan juga pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Strukturalisme berpandangan bahwa untuk menanggapi karya sastra secara objektif haruslah berdasarkan pemahaman terhadap teks karya sastra itu sendiri.

Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang paling penting dan paling dekat dengan teori sastra modern, terutama teori-teori yang menggunakan konsep dasar struktur. Pendekatan objektif menggambarkan evolusi teori pikiran manusia selama lebih dari 2.500 tahun, mulai dari Aristoteles hingga awal abad ke-20.

Pendekatan objektif memfokuskan pada unsur-unsur, atau analisis intrinsik. Logisnya, itu berarti mengabaikan atau bahkan menghindari elemen luar, seperti sejarah, sosiolog, politik, dan elemen sosiokultural lainnya, termasuk biografi. Oleh karena itu, pendekatan objektif juga disebut sebagai pembacaan mikroskopi, analisis ergocentric, dan analisis otonomi. Dalam pemahaman, hubungan antar unsur di satu sisi dan totalitas unsur di sisi lain dipertimbangkan.

Menurut Suwono (2001:55), memahami sastra strukturalisme berarti memahami karya sastra tanpa intervensi dari luar. Oleh karena itu, memahami karya sastra berarti memahami unsur-unsur yang membangun struktur. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang karya sastra, analisis struktur harus memperhatikan hubungan antara unsur-unsur tersebut.

Dengan menggunakan pendekatan objektif untuk menganalisis karya sastra, ada beberapa keuntungan. Di antaranya, yaitu:

·       pendekatan struktural memberi peluang untuk melakukan telaah atau kajian sastra yang lebih rinci dan mendalam,

·       pendekatan ini berusaha melihat sastra sebagai karya sastra hanya dengan mempersoalkan apa yang ada di dalamnya,

·      pendekatan ini memberi umpan balik kepada penulis sehingga mereka dapat mendorong diri mereka sendiri untuk menulis dengan lebih hati-hati dan teliti (Semi, 199).

 

Selain itu, pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan. Teeuw memberikan penjelasan rinci tentang empat kelemahan strukturalisme murni. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:

·         strukturalisme belum memberikan analisis teori sastra yang lengkap;

·      karya sastra tidak dapat diteliti secara terpisah dan harus dipahami dalam suatu sistem sastra bersama dengan latar belakang sejarahnya;

·         peranan pembaca yang cukup besar dalam memberikan makna juga menghilangkan unsur objektif dalam karya sastra;

·         penafsiran puisi yang menekankan otonomi puisi menghilangkan konteks dan kesenangan.

2.      Pendekatan Mimetik

Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani ‘mimesis’ yang berarti ‘meniru’, ‘tiruan' atau ‘perwujudan’. Mimetik secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang memandang karya sastra sebagai representasi atau replika dari dunia nyata. Selain itu, mimetik juga dapat didefinisikan sebagai suatu teori yang membentuk karya sastra dengan didasarkan pada peristiwa sosial yang terjadi di dunia nyata, dan kemudian mengembangkannya dengan menambah skenario yang berasal dari daya imajinasi dan kreatifitas pengarang sendiri.

Menurut Abrams (dalam Siswanto, 2008:188), pendekatan mimetik menganalisis sastra dengan fokus pada hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan ini menganggap karya sastra sebagai replikasi dari dunia nyata.

Sebagaimana dikemukakan pertama kali oleh filsuf Plato dan Aristoteles, pendekatan mimetik memandang karya sastra sebagai imitasi atau gambaran dari dunia nyata. Plato berpendapat bahwa seni hanyalah imitasi alam yang nilainya jauh di bawah ide dan realitas sosial, sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa imitasi membedakannya dari segala sesuatu yang nyata dan umum karena seni adalah aktivitas manusia.

Model ini memiliki pendekatan kritis utama terhadap karya sastra yaitu:

a. Pendekatan yang menitikberatkan pada karya itu sendiri. Pendekatan ini disebut pendekatan objektif.

b. Pendekatan yang menitikberatkan pada penulis. Pendekatan ini disebut pendekatan ekspresif.

c. Pendekatan yang menitikberatkan pada pembaca. Pendekatan ini disebut pendekatan pragmatik.

d. Pendekatan yang menitikberatkan pada semesta. Pendekatan ini disebut pendekatan mimetik 

C.    PENUTUP

1.      Kesimpulan

Pendekatan objektif menekankan pada unsur-unsur objektif seperti struktur naratif, alur cerita, dan elemen formal lainnya, memberikan landasan yang kokoh untuk analisis sastra yang bersifat lebih terstruktur dan terukur. Pendekatan ini memungkinkan untuk membongkar struktur karya sastra dengan cara yang rasional dan metodis, membuka jalan untuk pemahaman mendalam tentang bagaimana karya tersebut dibangun. Sedangkan Pendekatan mimetik menekankan pada kemampuan sastra untuk menggambarkan dan merefleksikan realitas manusia dengan cara yang mendalam dan autentik. Sastra dipandang sebagai cermin yang mencerminkan realitas manusia, memungkinkan pembaca untuk terlibat dalam proses refleksi terhadap kehidupan sehari-hari.

D. DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada

University Press.

Teeuw.A. 1984. Satra dan Ilmu Satra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hawa, M., Andayani, A., Suyitno, S., & Wardani, N. (2017). Teori Sastra.

 

 


Comments

Popular posts from this blog

Puisi "Pesisir Pantai di Selatan"

  PESISIR PANTAI DI SELATAN Karya: Vilza Rahayu Sukma   Matahari hadir menyinari pasir nan putih Deburan ombak memecah sunyi dengan hati-hati Sejauh mata memandang Kulihat hamparaan laut biru tak bertepi   Kutengadahkan kepala menatap langit Mataku pun menyipit Langit biru itu tampak menyilaukan Disinari oleh matahari   Hembusan angin berdesir menyapa pelan Daun kelapa mulai menari disapa angin Mataku terpejam merasakan sapuannya Ah, sejuknya   Saat netraku terbuka Kawanan burung mulai menghampiri langit Kepakan sayapnya mengarungi cakrawala Terbang tinggi sebebas-bebasnya   Tepi pantai dijerjang ombak Anak-anak berlarian dengan tawa ceria Kaki kecilnya mengayun indah Menyusuri tepi Pantai itu   Laut seolah memiliki harmoni Hingga membuatku tak merasa sendiri Suara ombak yang memecah sunyi Menyelami hati yang terasa sepi   Matahari yang berdiri di atas kepala Perlahan turun menuru...