Nama : Vilza Rahayu Sukma
NIM : 23016119
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M, Pd.
HERMENEUTIKA
A.
PENDAHULUAN
Karya
sastra adalah cara berdengan ekspresi seni yang menggunakan kata-kata yang
dipilih untuk menggambarkan kehidupan, prinsip, dan perasaan manusia. Salah
satu langkah penting untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata
dan alur cerita adalah interpretasi karya sastra.
Untuk
menginterpretasi karya sastra, seseorang harus memahami konteks budaya,
sejarah, dan sosial di mana karya tersebut dibuat. Dengan mempelajari elemen
seperti karakter, alur, tema, dan gaya penulisan, pembaca dapat mendapatkan
pemahaman tentang makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Dalam proses ini,
interpretasi berfungsi sebagai penghubung antara tulisan penulis dan pemahaman
yang lebih mendalam tentang dunia yang digambarkan.
Dalam
interpretasi sastra terdapat lingkaran hermeneutika yang menjelaskan
makna. Menurut lingkaran ini, objek
dibatasi oleh konteks-konteks. Memahami bagian-bagian berarti memahami konteks
keseluruhan, dan memahami bagian-bagian berarti memahami konteks secara
keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman
ini berbentuk lingkaran. Dengan mempertimbangkan pendekatan penginterpretasian
yang dikenal sebagai "lingkaran hermeneutika", dapat disimpulkan
bahwa prinsip yang berkesinambungan adalah dasar dari proses penafsiran teks
dalam studi sastra.
Dalam
laporan bacaan ini yang akan dibahas adalah interpretasi terhadap sastra atau
hermeneutika.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Hermeneutika
Pengertian
hermeneutika menurut para ahli, yaitu:
- Sumaryono (1999: 23), istilah
"hermeneutika" berasal dari kata kerja bahasa Yunani kuno
"hermeneuein", yang berarti "menafsirkan atau
menginterpretasi". Dari kata benda "hermenia", yang
diterjemahkan sebagai "penafsiran" atau
"interpretasi", berasal istilah "hermeneutika".
- Bauman (dalam Hidayat, 1996),
kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, “hermenutikos” yang
berarti upaya untuk menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar
dari tulisan atau ucapan yang tidak jelas, kabur, atau gelap. Pembaca atau pendengar pasti merasa
bingung, kebingungan, atau bahkan ragu dengan ucapan dan tulisan seperti
ini.
- Palmer (1969:3), menyatakan
hermeneutika diartikan sebagai proses mengubah situasi ketidaktahuan
menjadi tahu atau mengerti.
- Ricoeur (1985:43)
mendefinisikan hermeneutik sebagai teori pengoperasian pemahaman dalam
hubungannya dengan interpretasi terhadap teks. Menurutnya, apa yang
diucapkan atau ditulis manusia mempunyai makna lebih dari satu bila
dihubungkan dengan konteks yang berbeda.
- Palmer (1963:3) dan Hidayat
(1996: 12) menyatakan bahwa hermeneutika adalah metode kritik yang
berusaha menafsirkan makna sebuah teks secara mendalam dari bahasa
tertentu yang mencerminkan pola budaya tertentu pula.
- Carl Braathen menyatakan bahwa
hermeneutika adalah bidang yang menyelidiki bagaimana pemahaman dan makna
sebuah kata atau peristiwa di masa lalu bergantung pada konteks saat ini.
Menurut
definisi awal hermeneutika, yang berarti menyampaikan, menjelaskan, dan
menerjemahkan pesan kepada pembaca, hermeneutika dapat didefinisikan sebagai
proses mengubah sesuatu atau keadaan. Ketidaktahuan berubah menjadi pemahaman.
Hermeneutika juga mencakup analisis teks sebagai simbol untuk menemukan
artinya. Metode ini membutuhkan interpreter yang memiliki kemampuan untuk
menginterpretasikan masa lalu yang tidak dialami untuk dibawa ke masa depan.
2.
Tokoh-Tokoh Hermeneutika
Dan Pemikirannya
a.
Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768 -1834)
Friedrich
Ernst Daniel Schleiermacher dikenal sebagai tokoh hermeneutika romantis. Ia
yang mengubah pemahaman hermeneutika dari hanya mempelajari teks teologi (kitab
suci) menjadi cara memahami filsafat. Menurut pandangan tokoh ini, banyak
faktor yang memengaruhi pemahaman wacana, termasuk penafsir, teks, maksud
pengarang, dan konteks historis dan kultural.
b.
Wilhelm Dilthey (1833 -1911)
Dilthey
berpendapat bahwa hermeneutika adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan
tentang masa lalu. Berangkat dari premis bahwa memahami (mengerti) suatu teks
berarti menemukan arti aslinya dengan menunjukkan maksud pengarang melalui teks
berupa perasaan, visi, dan pikiran, antara lain.
c.
Edmund Husserl (1889 -1938)
Hermeneutika
fenomenologis adalah cabang dari hermeneutika yang didirikan oleh Husserl.
Husserl berpendapat bahwa pemahaman teks harus dibiarkan berjalan secara
mandiri tanpa adanya bias atau pendapat penafsir. Oleh karena itu, menafsirkan
sebuah teks berarti secara metodologis menghilangkan semua elemen yang tidak
relevan dari teks. Diizinkan agar teks menunjukkan artinya sendiri kepada
topik. Selain itu, bias subjektif penafsir harus dihindari.
d.
Martin Heidegger (1889 -1976)
Sebagian
besar orang menganggap Heidegger sebagai pencipta hermeneutika dialektis. Dia
menunjukkan bahwa kognisi adalah proses yang didahului oleh pemahaman tentang
sesuatu. Akibatnya, pembacaan atau penafsiran selalu berarti pembacaan ulang.
Meskipun Heidegger sangat terikat dengan nuansa fenomenologis dalam
pemikirannya, dia akhirnya beralih dari prinsip-prinsip fenomenologi Husserl,
yang lebih bersifat epistemologis karena berfokus pada pengetahuan tentang
dunia. Sebaliknya, fenomenologi Heidegger lebih bersifat ontologis karena
berfokus pada kenyataan itu sendiri.
e.
Hans Georg Gadamer (900-2002)
H. G.
Gadamer adalah pelopor hermeneutika dialogis. Menurutnya, pemahaman yang benar
adalah pemahaman yang mencapai tingkat ontologis daripada metodologis.
Dialektika adalah cara terbaik untuk mencapai kebenaran dengan bertanya banyak
hal. Bahasa menjadi media yang sangat penting untuk terjadi diskusi.
f.
Jurgen Habermas (1929)
Teori
hermeneutika kritis diciptakan oleh Habermas. Menurut Habermas, kepentingan
mendahului pemahaman. Kepentingan sosial, bersama dengan kepentingan kekuasaan
interpreter, menentukan batas pemahaman. Setiap penafsiran mengandung bias dan
elemen kepentingan sosial, ekonomi, politik, suku, dan gender.
g.
Jean Paul Gustave Ricoeur (1913-2005)
Ricoeur
mengatakan hermeneutika adalah proses penguraian yang bergerak dari isi dan
makna yang terlihat ke arah makna yang tersembunyi dan terpendam. Dalam mimpi,
objek interpretasi, yaitu teks dalam pengertian yang luas, dapat berfungsi
sebagai symbol atau bahkan legenda-legenda yang menggambarkan simbol dalam
karya sastra atau masyarakat.
h.
Jacques Derrida (1930)
Derrida
adalah figur yang menonjol dalam teori hermenutika dekonstruksionis. Ia
berpendapat bahwa pencarian makna selalu melibatkan upaya untuk membangun
hubungan sederhana antara penanda dan petanda. Teks selalu mengubah maknanya tergantung
pada situasi dan orang yang membacanya.
3.
Variasi Hermeneutika Dalam
kajian Sastra
Menurut Lefevere (1977:
46-47) ada tiga variassi hermeneutika yaitu, pertama hermeneutika tradisional
(romantik); kedua, hermeneutika dialektik; dan ketiga, hermeneutika ontologis.
a.
Hermeneutikaa Tradisional
Menurut
Lefevere, varian ini mengabaikan kenyataan bahwa tidak akan ada penafsiran yang
sama antara pembaca dan penafsir. Ini karena latar belakang atau
pengalaman Masing-masing berbeda. Varian ini tidak memperhitungkan
pembacanya. Dengan kata lain, peran pembaca sebagai pemberi respon dan makna
diabaikan (Lefevere, 1977: 47-48; Eagleton, 1983: 59; Valdes, 1987: 57;
Madison, 1988: 41). Variasi ini menganggap bahwa setiap pembaca karya sastra
memiliki pemahaman dan interpretasi yang sama tentang karya tersebut.
b.
Hermeneutika dialektik
Secara
keseluruhan, menurut Lefevere (1977: 49) hermeneutika dialektik yang
dikembangkan oleh Apple cenderung menggabungkan berbagai elemen yang tidak
terkait satu sama lain. Filosofi hermeneutika secara tradisional. Dalam
upayanya untuk memadukan antara penjelasan (erklaren) dan pemahaman (verstehen),
keduanya harus saling mengimplikasikan dan melengkapi satu sama lain, Apel
tampakanya berusaha untuk melakukannya. Ia menyatakan bahwa seseorang tidak
dapat memahami atau memahami sesuatu tanpa memiliki pengetahuan faktual yang
mungkin diperlukan.
c.
Hermeneutika Ontologis
Hans-Georg
Gadamer adalah pendiri dari aliran hermeneutika. Seperti yang dinyatakan oleh
Gadamer (dalam Lefevere, 1977: 50), semua yang membutuhkan penetapan dan
pemahaman dalam percakapan membutuhkan hermeneutika. Ricoeur sangat mendukung
gagasan hermeneutika ontologis Gadamer yang berpusat pada teks. Ia mengatakan
bahwa teks adalah sesuatu yang bernilai jauh melebihi situasi komunikasi
intersubjektif tertentu. Salah satu ciri utama dari satu-satunya historisitas
pengalaman manusia adalah bahwa teks adalah komunikasi baik dalam maupun
melalui jarak (Valdes, 1987: 61-62; Madison, 1988: 45).
4.
Hermeneutika Dan Interpretasi Sastra
Perkembangan
hermeneutika dan metode interpretasi sastra sangat terkait. Terutama terlihat
dalam sejarah filsafat dan teologi karena teori hermeneutika pertama kali
muncul dalam dua disiplin teologis dan filsafat bidang tertentu. Untuk memahami
hermeneutika dalam interpretasi sastra, seseorang harus memahami sejarahnya.
Untuk melakukannya, seseorang harus memahami tiga jenis hermeneutika yang
diusulkan oleh Lefevere, hermeneutika tradisional, dialektik, dan ontologis.
Memahami tiga jenis hermeneutika ini akan lebih memungkinkan untuk mendapatkan
pemahaman yang memadai tentang hermeneutika dalam menginterpretasi sastra.
C.
PENUTUPAN
- Kesimpulan
Dalam
hermeneutika, interpretasi sastra memerlukan pemahaman tentang konteks sosial,
budaya, dan historis yang melingkupi suatu karya. Pembaca kesulitan memahami
latar belakang penulis, prinsip-prinsip yang berlaku pada saat itu, dan bahasa
dan simbol yang digunakan dalam teks.
Hermeneutika
juga menekankan hubungan yang selalu berubah antara pembaca dan teks. Setiap
pembaca dapat membawa pengalaman dan perspektif mereka sendiri ke dalam proses
membaca karya sastra; oleh karena itu, interpretasi tidak terjadi secara
otomatis, tetapi merupakan dialog antara pembaca dan karya sastra.
- DAFTAR PUSTAKA
Simega,
B. 2013. Hermeneutika Sebagai Interpretasi Makna Dalam Kajian Sastra. Jurnal
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 2(1), 24-48.
Sumaryono, E. 1999. Hermeneutika:
Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
Waluyo, H. J. 1990. Hermeneutika
dalam Telaah Sastra. Makalah pada Pertemuan Ilmiah Nasional HISKI, Malang
Comments
Post a Comment