Nama : Vilza Rahayu Sukma
NIM : 23016119
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M,Pd.
PENDEKATAN EKSPRESIF DAN PRAGMATIS
A.
PENDAHULUAN
Sastra
adalah jenis karya seni yang dibuat oleh manusia yang menggambarkan
kompleksitas kehidupan dan perasaan manusia. Ada banyak cara untuk melihat
karya sastra dan menemukan maknanya. Pendekatan ekspresif dan pragmatis adalah
dua pendekatan analisis sastra yang sangat penting.
Laporan
bacaan ini akan membahas lebih lanjut tentang dua pendekatan tersebut. Memahami
teori sastra ekspresif dan pragmatis akan membantu Anda memahami makna karya
sastra secara menyeluruh dan menemukan esensi keindahan dan kompleksitas yang
terkandung di dalamnya.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang berpusat pada penulis atau pengarang karya. Karya penulis adalah ekspresi dari perasaan atau pengalaman pribadi. Menurut Abrams (dalam Siswanto, 2008:181), pendekatan ekspresif adalah cara membaca sastra yang berfokus pada ekspresi perasaan atau emosi penulis. Oleh karena itu, beberapa sumber yang terkait dengan pengarang diperlukan, termasuk tempat lahir, pendidikan, agama, dan lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Pendekatan ekspresif berfokus pada proses kreatif yang dilakukan oleh pengarang saat menulis karya sastra. Pencipta adalah faktor utama yang menyebabkan terciptanya karya sastra. Oleh karena itu, pendekatan tertua dan paling terkenal untuk studi sastra adalah penjelasan tentang kepribadian dan kehidupan pengarang (Wellek, 1989: hal 89).
Langkah-langkah berikut diperlukan untuk menganalisis pendekatan ekspresif terhadap karya sastra:
1) Pengenalan dan pemahaman tentang
subjek yang dianalisis dengan membaca dengan cermat karya sastra yang akan
dianalisis untuk menemukan masalah-masalah penting.
2) Untuk membuat analisis karya sastra
lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, mungkin bermanfaat untuk
mengumpulkan kepustakaan.
3) Untuk mengidentifikasi sikap dan ideologi pengarang, memahami secara menyeluruh dan mendalam tentang pengarang dengan menggunakan informasi yang diperlukan, seperti memeriksa biografi penuh pengarang dari kecil hingga dewasa dan latar belakang kehidupan mereka.
Pendekatan ini menekankan betapa pentingnya bagi penyair untuk mengungkapkan atau mencurahkan semua pikiran, perasaan, dan pengalaman yang dialami pengarang selama proses membuat karya sastra. Bahkan beberapa penulis berpendapat bahwa itu adalah keputusan mereka sendiri. Namun, ekspresif yang dimaksud adalah kemampuan pengarang untuk mempertimbangkan dan mempertimbangkan sesuatu selama proses kreatifnya, yang menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan sarat makna.
2.
Pendekatan Pragmatis
Pendekatan pragmatik melihat karya sastra sebagai sarana untuk memberikan informasi kepada pembaca. Dalam praktiknya, pendekatan ini lebih suka menilai karya sastra berdasarkan seberapa berhasil mencapai tujuan tertentu bagi pembaca (Pradopo, 1994). Pendekatan ini bertujuan untuk menyebarkan moralitas di bidang agama, politik, pendidikan, dan bidang lain.
Pendekatan pragmatik menganggap bahwa pembaca yang menentukan makna karya sastra. Karya sastra dianggap berhasil (atau unggul) jika bermanfaat bagi masyarakat atau pembacanya. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah pembaca mengalami hal-hal yang menyenangkan, menghibur, atau mendidik. Pendekatan pragmatik ini berasal dari fungsi sastra yang didefinisikan oleh filsuf Horace sebagai "menyenangkan dan berguna" (dulce et utile). Penelitian ini melihat manfaat karya sastra bagi masyarakat atau publik pembaca jika pendekatan pragmatik digunakan.
Pendekatan pragmatik didefinisikan oleh para ahli sebagai berikut:
1)
Teeuw (1994) menyatakan bahwa teori
pendekatan pragmatik merupakan bagian dari studi sastra pragmatik, yang
menekankan aspek pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna karya sastra.
2) Menurut Dawse (1960), pendekatan pragmatik mengatakan bahwa interpensi pembaca terhadap karya sastra dipengaruhi oleh apa yang disebut sebagai "horizon penerimaan", yang mempengaruhi bagaimana pembaca melihat dan menerima karya sastra.
Dengan menggabungkan unsur pelipur lara dan unsur dedaktif, pendekatan ini menegaskan bahwa sastra yang baik adalah yang dapat memberi kesenangan dan mengajarkan pembacanya. Konsep keindahan dan nilai dedaktif harus diperdebatkan saat menggunakan metode ini. Setiap generasi harus menceritakan nilai keindahan. Ini tidak berarti interpretasi hanyalah subjektif.
C.
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dalam menganalisis dan memahami karya sastra, dua pendekatan yang paling penting adalah ekspresif dan pragmatis. Pendekatan ekspresif menekankan aspek kedalaman emosional penulis dan melihat setiap frasa dan metafora sebagai jendela ke dunia pribadi penulis. Di sisi lain, pendekatan pragmatis mengakui bahwa makna karya sastra berasal dari interaksi langsung antara penulis dan karyanya sendiri.
D. DAFTAR PUSTAKA
Baligh, Muhammad Jammal. 2014. Pendekatan Ekspresif. Makalah.
Universitas Wiralodra. Indramayu.
Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Semi, Atar. 1993. Metode
Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Comments
Post a Comment